Refleksi
Firman Tuhan Dengan Keyakinan dan Contoh yang Kuat
Minggu,
26 september di Gereja Christus, Schwelm
(Injil Yohanes, 4:5-29)

Ilustrasi air (Foto:Ist)
Oleh : Pdt.Rainer
Schumacher
Seorang petani memiliki seekor kuda, kuda itu sangat
keras kepala, dan pada suatu hari kuda itu menolak untuk minum. Petani itu
selalu menaruh ember dengan air di depannya, akan tetapi kuda itu terus menerus
menolak. Petani takut, jangan sampai kuda itu meninggal, akhirnya ia
mendapatkan jalan keluar mengenai masalah ini.
Jalan keluarnya akan disampaikan pada akhir khotbah
ini.
Sebagai manusia sering kami kepala keras sama seperti
kuda itu. Kami menolak apa yang paling penting untuk hidup kita. Atau kita
seperti petani itu. Kita tahu apa yang baik untuk sesama manusia akan tetapi
sesama itu menolak untuk menerima pemberian kita.
Ada orang yang tidak menyadari atau merasa haus akan
Tuhan, namun mereka senang dengan
berbagai hal lain dalam dunia ini. Mereka tidak menyadari betapa
pentingnya hubungan dengan Tuhan untuk kehidupannya. Bagaimana kita bisa
menyadarkan dan meyakinkan mereka, bahwa Tuhan sangat penting untuk kehidupan
mereka?
Kalau saya melihat teman-teman kita dari Papua yang
hadir di gereja ini, saya heran sekali. 50 tahun lalu mereka belum mengenal
siapa itu Tuhan Yesus Kristus.
Tetapi melalui pelayanan dari keluarga Zöllner yang kemudian dilanjutkan
oleh keluarga Reuter, Injil masuk dan meniadakan banyak hal yang tidak
baik, misalnya perang antar suku. Orang Papua mengalami Injil seperti satu
pembebasan dari berbagai hal yang mengikat mereka.
Dalam ceritera Alkitab tentang pertemuan Yesus dengan
satu perempuan Samaria di pinggir sumur, Yesus meyakinkan perempuan itu bahwa
haus akan Tuhan itu penting bagi kehidupannya. Perempuan itu disingkirkan oleh
masyarakat di sekitarnya, karena cara
hidupnya – dia kawin cerai beberapa kali,
suaminya ada lima atau enam orang.
Dalam tarian tentang burung Cenderawasih, kami juga
melihat bahwa orang Papua disingkirkan di dalam negeri mereka sendiri, mereka
dibunuh dan alamnya dihancurkan serta dirampas.
Yesus meminta dari perempuan itu, tolong berikanlah
Aku air. Yesus betul-betul haus. Air menjadi tema pertemuan pemuda Jerman dan
Papua dalam minggu-minggu ini.
Yesus mulai bicara dengan perempuan itu tentang air,
tetapi bukan tentang air minum yang biasa, Yesus berkata: ”Jikalau engkau tahu
siapakah Dia yang meminta air dari padamu, niscaya engkau telah meminta
kepadanya dan Ia memberikan kepadamu air hidup.”
Perempuan itu merasa bahwa Yesus seorang yang luar
biasa, dan bahwa ia bukan berbicara tentang air biasa. Pembicaraan antara
mereka diteruskan, sebelum akhirnya perempuan itu mengakui: Engkau seorang nabi,
Engkau Mesias.
Setelah itu, perempuan itu menjadi saksi bagi Yesus;
oleh kesaksiannya banyak orang percaya kepada Yesus. Mereka bertemu dan
menikmati air hidup.
Teman-teman dari Papua, kalian juga sudah menemukan
Tuhan Yesus. Kalian sudah merasa dan meminum air hidup. Karena itu kalian harus
yakin: kalian tidak akan disingkirkan, kalian tidak akan kehilangan. Dengan
demikian, kita semua bisa meneruskan berita tentang sumber air hidup itu kepada
orang lain, kepada sesama kita di rumah, di kampung, di kota maupun dimana sana
kita berada.
Kita ingat ceritera tentang kuda di awal khotbah tadi,
yang selalu menolak air. Petani itu mendapat jalan keluar dan meyakinkan
kudanya dengan cara ini:
Dia mengambil seekor kuda lain dan menempatkannya
disamping kuda yang kepala keras itu. Lalu dia menaruh ember dengan air di
depan kuda itu, dan kuda yang baru tiba itu minum dengan senang sekali.
Barulah kuda yang sebelumnya menolak untuk minum lalu
mengerti, dan juga mulai minum, karena ia melihat temannya minum. Dia mulai
merasa betapa pentingnya air bagi kehidupannya.
Memang kehidupan sebagai orang Kristen tidak selalu
gampang, tetapi dengan contoh yang kita berikan kepada orang lain, mereka juga
bisa merasa betapa pentingnya hubungan kita dengan Tuhan. Amin.