Di tengah gejolak dunia yang terus berkobar, pemuda-pemudi
diperhadapkan dengan penyalahgunaan obat terlarang, seks bebas, pornografi,
pornoaksi dan kekerasan yang akan menjadi bagian utama dalam kehidupan generasi
muda saat ini, dan sangat dikhawatirkan akan mempengaruhi perilaku.
Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah apakah ini juga melanda
pemuda dan pemudi Kristen?
Ini sebuah pertanyaan yang harus segera dijawab oleh pemuda yang
ter-tantang untuk membuktikan perannya dalam kehidupan, baik di gereja dan di
masyarakat. Pertanyaan ini tentu bukan letupan sebuah keprihatinan atau sikap
ketidak percayaan terhadap peran pemuda, tetapi sebuah roh penyadaran bersama
untuk lebih meningkatkan kiprah pemuda dan pemudi untuk takut akan Tuhan.
Lalu bagaimana pemuda gereja berkiprah?
Banyak kegiatan gereja yang perlu mendapat perhatian pemuda. Untuk
itulah gereja terus berusaha menyediakan sarana dan prasarana sebagai bukti
dukungan dari jemaat bagi pumuda untuk kegiatan Gereja. Di Tanah Papua saat
ini, jumlah pemuda mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Dari mereka itulah
diharapkan kader gereja yang mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa memiliki
terhadap GIDI di Tanah Papua.
Pemuda dengan semua potensi yang dimilikinya merupakan aset
berharga gereja, masyarakat dan Negara. Tidaklah berlebihan jika pemuda disebut
sebagai tiang gereja, masyarakat dan Negara. Dimana sejarah mencatat, kebangkitan
nasional, dunia, Alkitab dan gereja telah membuktikan bagaimana peranan pemuda
menciptakan perubahan. Sudah saatnya pemuda GIDI di Tanah Papua bergerak dan
menjadi subjek pelayanan, tidak lagi bersifat menunggu dan pasif dalam
pelayanan, supaya pemuda menjadi berkat.
Untuk itu, setidaknya ada 3 motivasi yang perlu pemuda GIDI lakukan
:
1. Persekutuan
Salah satu dari tri panggilan gereja adalah Koinonia (bersekutu).
Di Gereja kita kenal dengan persekutuan PAR, PAM, PW Dan PKB. Persekutuan
inilah yang menjadi kekuatan bagi gereja dimana terdapat potensi-potensi yang
dimiliki oleh anggota jemaat. Persekutuan juga sangat menentukan dapat tidaknya
pelayanan gereja berjalan dengan baik.
Dengan persekutuan yang baik maka akan menyatukan potensi-potensi
yang dimiliki untuk mewujudkan tri panggilan gereja. Dalam hal ini, pemuda
harus menciptakan persekutuan yang baik di antara pemuda gereja sehingga
persekutuan tersebut menarik bagi orang lain untuk terlibat di dalamnya dan
tidak membentuk kelompok-kelompok individu dari salah satu suku dan adat,
sehingga tidak menimbulkan perpecahan yang akhirya merusak pelayanan.
Selain itu, pemuda dalam persekutuan-nya harus menjadi teladan bagi
generasi-nya dalam Sekolah Minggu (SM) dan remaja, bahkan pemuda hendaknya terlibat
dalam pelayanan dan pembinaan rohani bagi mereka. Menjadi teman sekerja Majelis
(untuk itu hendaknya diperlukan pendampingan dari para pendeta yang terpanggil
untuk mengarahkan pemuda gereja), contohnya menjadi guru sekolah minggu dan
mengambil bagian pada ibadah-ibadah unsur PAR.
2. Kesaksian
Saat ini yang sering dikeluhkan dan dipergumulkan di tengah-tengah
gereja GIDI adalah semakin banyaknya generasi muda yang meninggalkan GIDI dan
memilih aktif di gereja lain, khususnya aliran kharismatik. Alasan yang sering
kita dengar, banyak pemuda menyampaikan ibadah di GIDI monoton dan pelayanannya
tidak menyentuh. Dalam pelayanannya gereja GIDI, ibadah tidak menggunakan alat
musik yang lebih bersemangat, sehingga ibadahnya tidak hidup dan menarik.
Ditengah-tengah persekutuannya, seharusnya pemuda menciptakan
kegiatan-kegiatan yang lebih menarik. Membentuk wadah-wadah yang dapat
mengakomodir talenta-talenta pemuda yang selama ini terpendam untuk disalurkan
dalam pelayanan di tengah-tengah gereja, misalnya bermain musik, olahraga,
menulis cerita atau puisi dan lain-lain.
Pemuda juga dapat dilibatkan di dalam seksi-seksi di setiap
kepanitiaan kegiatan gereja. Artinya pemuda lebih menunjukkan partisipasi-nya
dan keterlibatannya dalam pelayanan sehingga, tidak hanya terlibat dalam
persekutuan-nya saja.
3. Pelayanan
Kegiatan-kegiatan pemuda hendaknya yang langsung menyentuh
kebutuhan jemaat, khususnya jemaat yang kurang mampu. Pemuda dapat membuka
pelatihan-pelatihan di gereja, membuka kursus-kursus sesuai dengan talenta dan
kemampuan pemuda guna mencerdaskan jemaat.
Contoh, pemuda dapat membuka kursus bahasa inggris, kursus keyboard
dan bimbingan belajar bagi adik-adik yang dalam masa persiapan ujian. Tentu
juga pelayanan-pelayanan yang berhubungan dengan sosial yang dapat dilakukan
pemuda gereja, misalnya mengunjungi orang sakit dari anggota jemaat, turut
serta dalam kegiatan ibadah penghiburan, bahkan pemuda dapat melakukan
pengobatan gratis donor darah dan pembinaan-pembinaan tentang kesehatan
masyarakat, membantu mensosialisasikan bahaya penyakit AIDS. Karna kita ketahui
bersama, penyakit ini menjadi urutan pertama mendominasi di Wilayah Papua.
Masa muda bukanlah menjadi penghalang bagi kita untuk turut serta
dalam pelayanan, memikul tanggung jawab untuk melakukan tri panggilan gereja
yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Rasul Paulus mengatakan, “Jangan
seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.” (1 Tim. 4: 12a).
Jika ditelusuri dalam Alkitab, dapat dilihat jalan Tuhan memakai
kaum muda untuk menyuarakan kebenaran. Yusuf yang dipakai Tuhan melalui suatu
maksud jahat dan ironis dari saudara-saudaranya dalam usianya yang masih muda
menjadi orang pertama yang dipakai Allah untuk menjadi pemimpin bangsa bahkan
di luar bangsanya sendiri.
Ketika Bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, justru Yosua
yang mudah yang harus memimpin mereka. Kedua belas murid Yesus pun adalah
orang-orang muda. Mereka sebagian besar hanyalah nelayan bukan tokoh yang
hebat, tapi dipakai untuk mengabarkan Injil. bahkan Yesus sendiri hidup selama
33 Tahun di dunia, Yesus mengerjakan tugas pelayanan yang berat dalam usianya
yang muda.
Masa muda adalah masa yang indah untuk melayani, waktu untuk
berkarya dan berbuah bagi Tuhan. Tunjukkanlah bahwa kamu pun bisa dan mempunyai
kapasitas untuk diandalkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan
masyarakat.
Kehadiran pemuda di gereja bukan untuk di layani tetapi untuk
melayani, bukan untuk dikasihi tapi untuk mengasihi, bukan juga untuk di
kasihani tapi mengasihani. Pelayanan pemuda bukan hanya sekedar ibadah tiap
minggu, paduan suara atau-pun vokal grup, tetapi pemuda mau melayani, karena
itulah yang diinginkan Tuhan dari pemuda pada masa muda saat ini.
Selamat melayani, pemuda GIDI di Tanah Papua dan selalu hidup
mencerminkan Yesus. Tuhan Yesus memberkati. (***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar