Rabu, 26 September 2018

Selamat melayani, pemuda/l GIDI di Tanah Papua dan selalu hidup mencerminkan Yesus. Tuhan Yesus memberkati. (***)

                                                                          
                                                              
Di tengah gejolak dunia yang terus berkobar, pemuda-pemudi diperhadapkan dengan penyalahgunaan obat terlarang, seks bebas, pornografi, pornoaksi dan kekerasan yang akan menjadi bagian utama dalam kehidupan generasi muda saat ini, dan sangat dikhawatirkan akan mempengaruhi perilaku.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah apakah ini juga melanda pemuda dan pemudi Kristen?
Ini sebuah pertanyaan yang harus segera dijawab oleh pemuda yang ter-tantang untuk membuktikan perannya dalam kehidupan, baik di gereja dan di masyarakat. Pertanyaan ini tentu bukan letupan sebuah keprihatinan atau sikap ketidak percayaan terhadap peran pemuda, tetapi sebuah roh penyadaran bersama untuk lebih meningkatkan kiprah pemuda dan pemudi untuk takut akan Tuhan.

Lalu bagaimana pemuda gereja berkiprah?
Banyak kegiatan gereja yang perlu mendapat perhatian pemuda. Untuk itulah gereja terus berusaha menyediakan sarana dan prasarana sebagai bukti dukungan dari jemaat bagi pumuda untuk kegiatan Gereja. Di Tanah Papua saat ini, jumlah pemuda mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Dari mereka itulah diharapkan kader gereja yang mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap GIDI di Tanah Papua.

Pemuda dengan semua potensi yang dimilikinya merupakan aset berharga gereja, masyarakat dan Negara. Tidaklah berlebihan jika pemuda disebut sebagai tiang gereja, masyarakat dan Negara. Dimana sejarah mencatat, kebangkitan nasional, dunia, Alkitab dan gereja telah membuktikan bagaimana peranan pemuda menciptakan perubahan. Sudah saatnya pemuda GIDI di Tanah Papua bergerak dan menjadi subjek pelayanan, tidak lagi bersifat menunggu dan pasif dalam pelayanan, supaya pemuda menjadi berkat.
Untuk itu, setidaknya ada 3 motivasi yang perlu pemuda GIDI lakukan :

1. Persekutuan
Salah satu dari tri panggilan gereja adalah Koinonia (bersekutu). Di Gereja kita kenal dengan persekutuan PAR, PAM, PW Dan PKB. Persekutuan inilah yang menjadi kekuatan bagi gereja dimana terdapat potensi-potensi yang dimiliki oleh anggota jemaat. Persekutuan juga sangat menentukan dapat tidaknya pelayanan gereja berjalan dengan baik. 

Dengan persekutuan yang baik maka akan menyatukan potensi-potensi yang dimiliki untuk mewujudkan tri panggilan gereja. Dalam hal ini, pemuda harus menciptakan persekutuan yang baik di antara pemuda gereja sehingga persekutuan tersebut menarik bagi orang lain untuk terlibat di dalamnya dan tidak membentuk kelompok-kelompok individu dari salah satu suku dan adat, sehingga tidak menimbulkan perpecahan yang akhirya merusak pelayanan. 

Selain itu, pemuda dalam persekutuan-nya harus menjadi teladan bagi generasi-nya dalam Sekolah Minggu (SM) dan remaja, bahkan pemuda hendaknya terlibat dalam pelayanan dan pembinaan rohani bagi mereka. Menjadi teman sekerja Majelis (untuk itu hendaknya diperlukan pendampingan dari para pendeta yang terpanggil untuk mengarahkan pemuda gereja), contohnya menjadi guru sekolah minggu dan mengambil bagian pada ibadah-ibadah unsur PAR.

2. Kesaksian
Saat ini yang sering dikeluhkan dan dipergumulkan di tengah-tengah gereja GIDI adalah semakin banyaknya generasi muda yang meninggalkan GIDI dan memilih aktif di gereja lain, khususnya aliran kharismatik. Alasan yang sering kita dengar, banyak pemuda menyampaikan ibadah di GIDI monoton dan pelayanannya tidak menyentuh. Dalam pelayanannya gereja GIDI, ibadah tidak menggunakan alat musik yang lebih bersemangat, sehingga ibadahnya tidak hidup dan menarik.

Ditengah-tengah persekutuannya, seharusnya pemuda menciptakan kegiatan-kegiatan yang lebih menarik. Membentuk wadah-wadah yang dapat mengakomodir talenta-talenta pemuda yang selama ini terpendam untuk disalurkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja, misalnya bermain musik, olahraga, menulis cerita atau puisi dan lain-lain. 

Pemuda juga dapat dilibatkan di dalam seksi-seksi di setiap kepanitiaan kegiatan gereja. Artinya pemuda lebih menunjukkan partisipasi-nya dan keterlibatannya dalam pelayanan sehingga, tidak hanya terlibat dalam persekutuan-nya saja.

3. Pelayanan
Kegiatan-kegiatan pemuda hendaknya yang langsung menyentuh kebutuhan jemaat, khususnya jemaat yang kurang mampu. Pemuda dapat membuka pelatihan-pelatihan di gereja, membuka kursus-kursus sesuai dengan talenta dan kemampuan pemuda guna mencerdaskan jemaat.

Contoh, pemuda dapat membuka kursus bahasa inggris, kursus keyboard dan bimbingan belajar bagi adik-adik yang dalam masa persiapan ujian. Tentu juga pelayanan-pelayanan yang berhubungan dengan sosial yang dapat dilakukan pemuda gereja, misalnya mengunjungi orang sakit dari anggota jemaat, turut serta dalam kegiatan ibadah penghiburan, bahkan pemuda dapat melakukan pengobatan gratis donor darah dan pembinaan-pembinaan tentang kesehatan masyarakat, membantu mensosialisasikan bahaya penyakit AIDS. Karna kita ketahui bersama, penyakit ini menjadi urutan pertama mendominasi di Wilayah Papua.

Masa muda bukanlah menjadi penghalang bagi kita untuk turut serta dalam pelayanan, memikul tanggung jawab untuk melakukan tri panggilan gereja yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Rasul Paulus mengatakan, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.” (1 Tim. 4: 12a).

Jika ditelusuri dalam Alkitab, dapat dilihat jalan Tuhan memakai kaum muda untuk menyuarakan kebenaran. Yusuf yang dipakai Tuhan melalui suatu maksud jahat dan ironis dari saudara-saudaranya dalam usianya yang masih muda menjadi orang pertama yang dipakai Allah untuk menjadi pemimpin bangsa bahkan di luar bangsanya sendiri. 

Ketika Bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, justru Yosua yang mudah yang harus memimpin mereka. Kedua belas murid Yesus pun adalah orang-orang muda. Mereka sebagian besar hanyalah nelayan bukan tokoh yang hebat, tapi dipakai untuk mengabarkan Injil. bahkan Yesus sendiri hidup selama 33 Tahun di dunia, Yesus mengerjakan tugas pelayanan yang berat dalam usianya yang muda.

Masa muda adalah masa yang indah untuk melayani, waktu untuk berkarya dan berbuah bagi Tuhan. Tunjukkanlah bahwa kamu pun bisa dan mempunyai kapasitas untuk diandalkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan masyarakat.

Kehadiran pemuda di gereja bukan untuk di layani tetapi untuk melayani, bukan untuk dikasihi tapi untuk mengasihi, bukan juga untuk di kasihani tapi mengasihani. Pelayanan pemuda bukan hanya sekedar ibadah tiap minggu, paduan suara atau-pun vokal grup, tetapi pemuda mau melayani, karena itulah yang diinginkan Tuhan dari pemuda pada masa muda saat ini.

Selamat melayani, pemuda GIDI di Tanah Papua dan selalu hidup mencerminkan Yesus. Tuhan Yesus memberkati. (***)



Minggu, 20 Mei 2018

Anak Injil Dan Bua Injil dari Gereja Kampung

                                   
 Dunia semakin apik dan canggih cara pandang dan cara pendalaman pemahaman alkitab pun semakin terbuka. Mungkin orang Tua para Pdt kita mengajarkan kami iman Kristen dengan sederhana tetapi kami berdiri hari ini dampak pengajaran itu. Kami representase dan bukti para orang tua kami dari kampung.

Kira-kira. dimana kesalahan gereja tradisional? Dimana letak salah orang tua para Pdt kampung mendidik kita dalam pengajaran alkitab? sehingga anak-anaknya harus berontak keluar rumah?. bangun rumah baru dan menghasut, mencuri domba-domab orang tuanya pelihara dirumah barunya kemudian, Mendoktrin anak-anak itu bahwasanya: orang tua kita salah mengajarkan Alkitab dan harus di lawan.

Anak baik musti kembali ke rumah kepada orang tuanya meminta saran dan nasihat walau anak memiliki kepandaian apapuan itu. Sebab nasihat dan doa para orang tua itu sangat mujarab, kekuatannya:
"mematikan dan menghidupkan" . Hukum Dunia dan akhirat ada di tangan mereka.

Hari ini yang berteriak di jalan, kibarkan bendera Israel dengan konvoi sambil cari perhatian, cari domba-domab di gereja-gereja dengan lidah licik, mulut mansi di terutama di kota Jayapura Papua ini musti di hentikan sebab ini kegiatannya anak-anak liar.

Silakan lakukan kegiatan apapun itu tetapi anda harus tau anda anak rumah dan lakukan kegiatan itu di dalam rumah bersama orang tua.

Hari ini sion kids bangkit di tanah Papua. iman Kristen di tanah Papua di ombang ambingkan kemudian menyatakan bahwa bendera Israel adalah lambang budaya orang Papua. Dengan dalil Kristen. Dengan begitu mereka bisa melakukan konvoi, seminar, KKR dll sesuka hati mereka.

Dampaknya gereja traditional terjadi kekosongan umat.
mereka semua melawan gereja yang telah besaran kita semua.

Ini bukan kebaikan tetapi awal kehancuran gereja. Dahulu gereja tidak punya musuh dengan negara dan umat beragama lainnya tetapi kini gereja menjadi
musuh pemerintah, gereja di curiga, Gereja juga menjadi musuh umat beragama lainnya.
Lebih dalam lagi.
Bendera Israel adalah bendera lambang daud tertulis dalam alkitab bukan juga untuk kita kibarkan sembarang tempat.
Yang bisa kibarkan bendera itu orang Israel sendiri. di luar dari Israel sebatas mengetahui, mengaku sebagai lambang daud kemudian mendoakan bangsa Israel cukup itu. Jangan bikin gerakan tambahan dengan pengajaran baru.

Saya pribadi tidak setuju jika bendera Israel di kibarkan di tanah Papua dengan alasan apapun, apalagi bawa-bawa Kristen.
Bendera tidak menyelamatkan manusia di muka bumi ini, yang menyelamatkan adalah Yesus Kristus dengan cara mengorbankan nyawanya.

Orang kristen cukup mengakui Yesus Kristus Tuhan dan Juruslamat pribadi maka kita memiliki hidup (itu sudah melebihi daripada bendera).
Jangan sampai orang Kristen ini di giring masuk dalam penyesatan.

Bendera tidak menyelamatkan manusia hanya Yesus yang menyelamatkan manusia. Bendera sebatas lambang raja Daud bani Jisrail cukup kita akui.

Di saat mengabarkan bendera Israel tidak akan pernah terjadi perubahan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Yang bisa merubah hidup adalah: "terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi" dan akan terjadi kemerdekaan yang luar biasa. Kita juga dari kegelapan di pindahkan kepada terang yang ajaib.

Kepada: sion kids berhenti cara-cara ini segera! Ini sesat dan mengadu domba.
Lebih bagus sion kid's ini segera bubar, sebab dinilai perusak tatanan gereja dalam bermasyarakat dengan orang lain.

Para pemimpin juga jangan kita main tipu disini. Bendera Israel Ini bukan budaya orang Papua. Sejak kapan bendera Israel menjadi budaya orang Papua?. Sejak kapan juga gereja mendewakan bendera Israel?. Stop! berhenti dengan kamu orang punya cara-cara baru itu.

Berhenti tangkap - tangkap dombah di dalam gereja :
GKI, KINGMI, BABTIS, GIDI, PETAKOSTA, KATOLIK, ADVEN.
Dengan pengajaran sesat dan tidak pasti.
Ingat. Kita pasti masuk sorga melalui gereja tradisional kami tanpa ajaran kalian hari ini.

Gereja musti jelih melihat situasi Papua dan Indonesia hari ini.

Selasa, 27 Februari 2018

Bagaimana Sejarah Kekristenan

Bagaimana sejarah kekristenan?
 



Pertanyaan: Bagaimana sejarah kekristenan?

Jawaban:
Sejarah kekristenan pada dasarnya adalah sejarah peradaban Barat. Kekristenan memiliki pengaruh yang luas dalam masyarakat umum – baik terhadap kesenian, bahasa, politik, hukum, kehidupan keluarga, penanggalan, musik, dan cara berpikir kita.

Semua ini telah diwarnai oleh pengaruh kekristenan hampir 2000 tahun lamanya. Karena itu, kisah tentang Gereja adalah sesuatu yang penting untuk diketahui.

Sejarah Kekristenan – Permulaan Gereja

Gereja dimulai 40 hari sesudah kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30).

Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius 16:18), dan dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4), Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai. Tiga ribu orang menerima khotbah Petrus pada hari itu dan memilih untuk mengikuti Kristus.

Petobat-petobat pertama dalam kekristenan itu orang-orang Yahudi atau peganut-penganut Yudaisme, dan karenanya gereja berpusat di Yerusalem.

Kekristenan pada mulanya dipandang sebagai sekte Yahudi, sama seperti orang-orang Farisi, Saduki, atau Essenes. Namun demikian, apa yang dikhotbahkan para Rasul berbeda secara radikal dari apa yang diajarkan oleh kelompok-kelompok Yahudi lainnya.

Yesus itu Mesias orang Yahudi (Raja yang Diurapi) yang datang untuk menggenapi Hukum Taurat (Matius 5:17) dan memberi Perjanjian Baru yang didasarkan pada kematianNya (Markus 14:24).

Berita ini, dan tuduhan bahwa mereka telah membunuh Mesias mereka sendiri, membuat banyak pemuka Yahudi menjadi marah, dan beberapa orang, seperti Saul dari Tarsus, mengambil tindakan untuk memusnahkan “Jalan” itu (Kisah 9:1-2).

Benar jika mengatakan bahwa kekristenan berakar pada Yudaisme. Perjanjian Lama meletakkan landasan bagi Perjanjian Baru dan tidak mungkin untuk memahami kekristenan secara menyeluruh tanpa pengetahuan akan Perjanjian Lama (lihat kitab Matius dan Ibrani).

Perjanjian Lama menjelaskan kebutuhan bangsa Israel atas Mesias, mengandung sejarah umat milik Mesias, dan menubuatkan kedatangan Mesias. Perjanjian Baru lebih mengenai datangnya Mesias dan karyaNya untuk menyelamatkan kita dari dosa.

Dalam hidupNya, Yesus menggenapi lebih dari 300 nubuat yang terperinci, membuktikan bahwa Dialah yang dinanti-nantikan oleh Perjanjian Lama.

Sejarah KeKristenan – Pertumbuhan Gereja Mula-Mula

Tidak lama setelah Pentakosta, pintu gereja terbuka kepada orang-orang bukan Yahudi.

Rasul Filipus berkhotbah kepada orang-orang Samaria (Kisah 8:5), dan banyak dari mereka yang percaya kepada Kristus. Rasul Petrus berkhotbah kepada rumah tangga Kornelius yang bukanlah orang Yahudi (Kisah 10) dan mereka juga menerima Roh Kudus. Rasul Paulus (mantan penganiaya gereja memberitakan Injil di seluruh dunia Yunani-Romawi, sampai ke Roma sendiri (Kisah Para Rasul 28:16) dan bahkan mungkin sampai ke Spanyol.

Pada tahun 70, tahun di mana Yerusalem dihancurkan, kitab-kitab Perjanjian Baru telah lengkap dan beredar di antara gereja-gereja. Untuk 240 tahun berikutnya, orang-orang Kristen dianiaya oleh Roma, kadang-kadang secara acak, kadang-kadang atas perintah pemerintah.

Pada abad kedua dan ketiga, kepemimpinan Gereja mejadi makin berjenjang seiring peningkatan jumlah jemaat. Beberapa ajaran sesat diungkapkan dan ditolak pada zaman ini, dan kanon Perjanjian Baru disepakati. Penganiayaan terus meningkat.

Sejarah Kekristenan – Bangkitnya Gereja Roma

Kemudian pada tahun 312, Kaisar Roma, Konstantin mengaku mendapatkan pengalaman pertobatan. Sekitar tahun 370, pada masa pemerintahan Theodosius, kekristenan menjadi agama resmi dari kekaisaran Romawi.

Para Uskup diberi tempat terhormat dalam pemerintahan, dan pada tahun 400, istilah Romawi dan Kristen pada dasarnya dianggap sama.

Setelah Konstantin, orang-orang Kristen tidak lagi dianiaya. Pada waktu itu, justru orang-orang tidak percaya yang mengalami penganiayaan, kecuali kalau mereka “bertobat” kepada kekristenan. Pertobatan yang dipaksa semacam ini mengakibatkan banyak orang yang bergereja tanpa mengalami perubahan hati yang sejati.

Orang-orang ini membawa berhala-berhala mereka dan kebiasaan-kebiasaan mereka, dan gereja berubah: ikon-ikon, desain arsitektur yang ruwet, perjalanan ziarah, dan pemujaan orang-orang suci ditambahkan kepada ibadah gereja mula-mula yang sederhana.

Kira-kira, pada saat bersamaan, beberapa orang Kristen meninggalkan Roma dan memilih untuk tinggal secara terpencil sebagai biarawan, dan baptisan bayi diperkenalkan sebagai cara untuk menyucikan dosa asal.

Dalam abad-abad berikutnya, berbagai konsili gereja dilakukan untuk menentukan doktrin resmi gereja, mengecam perlakuan yang salah terhadap para pelayan Tuhan, dan mendamaikan pihak-pihak yang bertikai.

Dengan makin melemahnya Kekaisaran Roma, gereja menjadi makin berkuasa dan timbul makin banyak pertentangan antara gereja-gereja di Barat dan Timur. Gereja Barat (Latin), berpusat di Roma, mengklaim otoritas kerasulan terhadap semua gereja. Uskup Roma bahkan mulai menyebut diri “Paus” (Bapa).

Hal ini tidak dapat diterima dengan baik oleh Gereja Timur (Yunani) yang berpusat di Konstantinopel. Perbedaan teologis, politis, prosedural dan bahasa mengakibatkan Perpecahan Besar pada tahun 1054, di mana Gereja Katolik (Universal) Roma dan Gereja Ortodoks Timur saling mengucilkan satu dengan yang lainnya dan memutuskan hubungan.

Sejarah Kekristenan – Abad Pertengahan

Selama Abad Pertengahan di Eropa, Gereja Katolik Roma terus memegang kekuasaan, dengan Paus sebagai pemegang kekuasaan atas semua jenjang kehidupan dan hidup seperti raja.

Korupsi dan ketamakan dalam kepemimpinan gereja menjadi hal yang umum. Dari tahun 1095 sampai 1204, para Paus mendukung serangkaian perang salib yang berdarah dan mahal dalam usaha mengusir kaum Muslim dan membebaskan Yerusalem.

Sejarah Kekristenan - Reformasi

Selama bertahun-tahun, berbagai individu telah berusaha menyoroti penyalahgunaan teologi, politik, dan hak asasi manusia yang dilakukan oleh Gereja Roma. Semua dibungkam dengan satu dan lain cara.

Namun pada tahun 1517, seorang biarawan Jerman bernama Martin Luther mengambil sikap melawan Gereja, dan semua orang mendengarnya. Melalui Luther, hadirlah Reformasi Prostestan, dan Abad Pertengahan berakhir.

Para Reformator, termasuk Luther, Calvin, and Zwingli, berbeda dalam banyak detail teologinya, namun mereka konsisten dalam penekanan mereka atas Alkitab sebagai otoritas tertinggi yang melampaui tradisi gereja. Juga, pengajaran bahwa orang-orang berdosa diselamatkan oleh anugerah melalui iman semata, bukan karena perbuatan baik (Efesus 2:8-9).

Sekalipun Katolisisme muncul kembali di Eropa, dan serangkaian peperangan antara Protestan dan Katolik terjadi, Reformasi berhasil meruntuhkan kekuasaan Gereja Katolik Roma dan membantu membuka pintu kebudayaan kepada abad modern.

Sejarah Kekristenan – Abad Misi

Pada tahun 1790 sampai 1900, gereja memperlihatan minat yang luar biasa pada pekerjaan misi. Kolonisasi telah membuka mata Gereja pada pentingnya misi. Industrialisasi menyediakan donatur dengan kekuatan dana untuk mendanai para misionaris.

Para misionaris pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil dan gereja berdiri di mana-mana.

Sejarah Kekristenan – Gereja Modern

Saat ini Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki hubungan mereka yang rusak, sebagaimana dilakukan Katolik dan Lutheran. Gereja Injili berdiri sendiri dan berakar kuat dalam teologi Reformed. Gereja juga menyaksikan bangkitnya Pentakostalisme, gerakan Karismatik, Oikumenisme dan berbagai ajaran sesat.

Sejarah Kekristenan – Apa Yang Kita Pelajari Dari Sejarah Kita

Kalaupun kita hanya belajar satu hal dari sejarah Gereja, kita perlu mengenali pentingnya “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya (Kolose 3:16).

Setiap dari kita bertanggung jawab untuk mengetahui apa kata Alkitab dan hidup menaatinya. Ketika gereja melupakan apa yang diajarkan Alkitab dan mengabaikan pengajaran Yesus, maka kekacauan akan merajalela.

Saat ini, ada banyak gereja, namun hanya satu Injil. Itu sikap “mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” (Yudas 3). Mari kita dengan hati-hati mempertahankan iman itu dan meneruskannya tanpa mengubahnya.

Kiranya Tuhan terus memenuhi janjiNya untuk membangun gerejaNya.

Rabu, 14 Februari 2018

Rapat Terbuka Pemuda GIDI di Makassar 20 Januari 2018

   Rapat Terbuka Pemuda GIDI di Makassar 20 Januari 2018
Agenda rapat;
1. KONDISI PEMUDA GIDI MAKASSAR
2. PEMBAHASAN HUT GIDI 12 FEBRUARI 2018
3. HAL PENTING

Pembahasan;
1. PENGANTAR (PEMUDA GIDI MAKASSAR)
GIDI merupakan salah satu gereja lokal di papua yang hingga kini menyebar di seluruh indonesia. GIDI adalah Gereja Injili Di Indonesia. GIDI menjadi salah satu dedominasi yang terdaftar sah di kementerian agama RI. Berjalannya waktu pemuda GIDI di makassar semakin banyak. Kini pemuda GIDIdi makassar bersepakat SIAP untuk adakan HUT GIDI yang ke 55.

2. PERSIAPAN HUT GIDI
Dalam persiapan HUT GIDI telah terbentuk tim kerja hari ini yaitu: MIRON KOGOYA sebagai ketua, ANGGUP WONDA sebagau sekretaris dan SINA KOGOYA sebagai bendahara. pembentukan devisi kerja hut akan menyelesaikan dalam waktu dekat. Sumbangan sukarela kepada seluruh pemuda GIDI di makassar dan teman teman seperjuangan semua.

3. HAL PENTING
1. shareng pemuda GIDI di makassar akan tetap berlanjut
2. Pemuda GIDI minta dukungan doa untuk PI di makassar

Pemimpin rapat
1. Ketua Nomy Kogoya (Ketua Mamteng)
2. Sekretaris Eko P. Kogoya (Ketua Puncak Jaya)
3. Anggota Maikel M. Yigibalom (Ketua Ikatan Tolikara)

KAMI SELURUH PEMUDA GIDI DI MAKASSAR MEMOHON DUKUNGAN DOA DARI SELURUH KADER GIDI DIMANA SAJA BERADA, AGAR RENCANA TUHAN, BERJALAN BAIK SESUAI HARAPAN KAMI DI MAKASSAR.
WA...WA...WA...
Amole, amokane, amoyapa, nayak, yepnum, wiwa, KINAONAK.

YESUS MEMBERKATI...
#Desman w. Gire
— penuh harap , di Makassar City.

5 CELA OLEH IBLIS UNTUK MENGHANCURKAN KITA




                           5 CELA OLEH IBLIS UNTUK MENGHANCURKAN KITA 
5 CELAH YANG DIGUNAKAN IBLIS UNTUK MENGHANCURKAN ANDA, BERANI MELAWAN ? Kita percaya bahwa Tuhan Yesus merencanakan sesuatu yang indah bagi kita, dia memberikan kabar baik dan sebuah rancangan damai sejahtera bukanlah kecelakaan. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. – Yeremia 29:11 Namun kadang pencobaan Tuhan biarkan untuk melatih dan membangun kepribadian kita untuk menjadi lebih baik lagi. Pada dasarnya pencobaan yang kita lalui tidak melebihi dari kekuatan kita, sebab Tuhan juga menopang. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. – 1 Korintus 10:13 Alkitab juga mengatakan bahwa waktu iblis sudah singkat seperti yang dikatakan Wahyu 12:12. Kita juga percaya bahwa doa dan keteguhan iman adalah tameng dari pertahanan kita terhadap iblis yang terlebih besar Tuhan Yesus menjadi bentengnya. Kita masih lekat terhadap namanya daging, namun kita juga harus melekat atau mendekatkan diri kepada Tuhan sebab ia yang mampu mengawasi kita dan menutup celah untuk iblis. Ada 5 Celah ketika Anda "J A T U H" dan iblis memanfaatkan anda dan merusak hidup anda, maka dari itu berhati-hatilah. 1. J ahat Jahat, kejahatan adalah hal yang tidak disukai Tuhan, melakukan kejahatan dapat membuat kita hidup di zona nyaman, dan orang tertentu dapat menikmatinya namun itu merupakan hal yang tidak terpuji di mata Allah. MELAKUKAN KEJAHATAN Tuhan Yesus bangkit dan menebus dosa kita bukan berarti kita hidup enak-enak saja, namun dapatkah anda mengorbankan diri anda sepenuhnya hanya untuk Kristus ? Maka dari itu patuhilah firman Tuhan dan lakukan ! 1 Petrus 3:9 – Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Lawan kejahatan dengan memberkati orang yang mencaci maki dan menyakiti kamu ! Siapkah kamu ? Jika ya, lanjut membaca artikel selanjutnya. 2. A marah MENJAGA AMARAH KITA Menahan emosi bisa dibilang cukup susah, tergantung permasalahan dan pola pikir kita. Namun kita beralih ke firman, Tuhan memberikan kita setiap emosi yang berbeda-beda seperti menangis, bahagia, marah, dan sebagainya. Namun emosi yang negatif mungkin menimbulkan pikiran pesimis dan tindakan yang tidak baik, mungkin marah kemudian benci dan benci menjadi dendam. Kiranya kita harus mampu mengasihi orang yang kita benci seperti Yesus mengasihi musuh-Nya. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam – Mazmur 4:5 Bagaimana kita melawan emosi-emosi yang memicu kita untuk melakukan dosa ? “Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesama manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43-44). Kasihilah dan Doakanlah jika itu bersangkutan dengan orang lain, kuatkan dan teguhkan jika bersangkutan dengan diri anda sendiri ! 3. T akut KETAKUTAN MENJADI MASALAH YANG BESAR Menjadi gentar, tidak terkendali dan takut. Anda menjadi kawatir rasa takut meliputi anda, anda menjadi menyesal dan tidak ada harapan rasa takut juga meliputinya. Jadi siapa yang tidak pernah takut akan suatu masalah akan hidup ? Mungkin kita mengenal dan mempercayai Tuhan mengapa kita mesti takut dan sering memberatkan ketakutan daripada Tuhan sendiri ? Percayalah akan janji Tuhan Yesus yang selalu membantu engkau disaat ada masalah sekalipun. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1:9). Ada masalah anda milih menjadi tawar hati, lari dari masalah atau berjalan, teguhkan hati dan menghadapinya ? Tunggu dulu, jangan lupa Tuhan yang menyertaimu. 4. U jung Tanduk MERASA PALING DI UJUNG TANDUK Tidak ada harapan, merasa tertekan dan sudah benar-benar berada di ujung tanduk. Kita tidak ada siapa-siapa yang menolong kita. Keluarga kita, teman kita, bahkan orang lainpun tidak mau menolong masalah yang kita hadapi, ketika anda berharap dari dunia apa yang bisa anda harapkan ? Tidak ada, anda mengharapkan sesuatu yang sia-sia, karena dunia itu rusak, jahat dan kejam. Berharaplah kepada Dia yang memberikan kamu keselamatan, mengapa kita menjadi suam-suam kuku dan malu mengakui Dia sebagai Tuhan ? Meskipun tidak kelihatan tapi kuasaNya besar dan terlihat, jangan sering memaksakan kehendak anda sendiri tapi utamakanlah Tuhan yang menjadi jawaban atas hidup anda. Yeremia 17:5 – Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (7) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 5. H ancur Anda sudah benar-benar rusak, merasa tak dapat diperbaiki, takut, amarah, emosi, kejahatan dan benar-benar hancur total. Dan anda masih berpikir anda adalah salah satunya orang yang paling hancur sedunia ? Lihatlah Pengorbanan Tuhan Yesus untuk anda, apakah Dia hancur ? Apakah Dia rusak ? Apakah Dia menjadi hina, cacat, buruk dihadapan orang-orang banyak ? Masih ada Tuhan yang mau menerima engkau apa adanya, anda diselamatkan bukan karena anda tampan, cantik, kaya, miskin tapi kerinduan anda masih adakah untuk percaya padaNya ? Anda menjadi keras, menjadi bertolak belakang terhadap firman, menikmati semua apa yang ada, melupakan kepahitan, menjadi tegar atas hidup duniawi tapi sayang semua itu hanya sementara dan sia-sia. Solusi bukanlah terdapat pada senang-senang tetapi mendekatkan diri kepadaNya, bukan semakin mendekatkan diri kepada hedonisme tapi lihatlah Tuhan dan pandang Dia, apa yang Dia lakukan jika diposisimu saat ini ? “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mazmur 51:19). Yeremia berkata, “Mereka mengeraskan kepalanya lebih dari pada batu, dan mereka tidak mau bertobat” (Yeremia 5:3). Mengapa hati dari orang-orang yang belum diselamatkan begitu keras? Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa ada selubung pada hati mereka. Alkitab berkata, “ada selubung yang menutupi hati mereka” (II Korintus 3:15). Hati manusia duniawi tidak percaya Alkitab, tidak percaya ketatnya hukum Taurat, tidak percaya murka yang akan datang. Ada penutup, atau selubung yang menutupi mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran. Kedua, Setan telah merasuki hati mereka. Ia adalah “roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka” (Efesus 2:2). “Iblis… mengambil firman itu dari dalam hati mereka” (Lukas 8:12). Ketiga, mereka “sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa mereka” (Efesus 2:1). Jiwa mereka yang sudah mati tidak mendengar apa yang dikhotbahkan. Jiwa mereka yang mati tidak dapat merasakan keinsafan akan dosa. Jiwa mereka yang mati membuat “pengertiannya yang gelap” (Efesus 4:18), “perasaan mereka telah tumpul” (Efesus 4:19). Keempat, mereka berharap aman dalam berlindung di balik kebohongan, Nabi Yesaya berkata, “Kami telah membuat bohong sebagai perlindungan kami, dan dalam dusta kami menyembunyikan diri” (Yesaya 28:15). Mereka berharap aman dengan mempercayai suatu doktrin Alkitab, dalam kenyataan bahwa mereka berdoa terima Yesus, memberikan persembahan uang kepada gereja, dibaptis, atau beberapa perlindungan bohong lainnya.” Sumber: Kitaterang.com Salam Damai, Kelber GPG Wamena Papua di Mei 08, 2017 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest GERAKAN PEMUDA GEREJA INSTITUT (GPGI) GERAKAN PEMUDA GEREJA INSTITUT (GPGI) Oleh: Jhon Lhau'rens Tabuni Pada dasarnya GPGI Bertujuan untuk membenahi hal hal yang terjadi tidak sesuai dengan hasrat dan harapan manusia awam/jelata di tengah zaman reformasi seperti KKN (Kolusif, Korupsi dan Nepotisme) dan tegakkan ideologi Kristen melalui shareng ilmu, pengetahuan dan pengalaman agar kedamaian dan kesejahteraan bagi umat Kristen terkhusus kepada orang-orang yang bergabung dalam GPGI terwujud. Banyak gerakan kristen yang dilakukan seluruh dunia pada umumnya dan pada khusus di republik ini (Papua-Indonesia) namun Gerakan Pemuda Gereja Institut yang disingkat dengan GPGI adalah salah satu gerakan pemuda kristen yang akan dilakukan di Indonesia pada umumnya dan pada khususnya di Papua dengan Tujuan utama adalah "MEMANUSIAKAN MANUSIA DALAM PENDIDIKAN MELALUI GERAKAN KEKRISTENAN". Dalam sebuah gerakan khususnya gerakan kristen yang terpenting adalah gerakan yang di dalamnya semua orang kristen bersatu hati, pikiran maupun jiwa raganya yang melandasi dengan sikap kekristenan dalam ketuhanan, Karena sebuah gerakan kristen tanpa barisan satu hati dan jiwa raga yang kuat/kokoh, maka akan mudah dihancurkan/dirobohkan dengan gerakan musuh/pembeda kristen yang memiliki dengan barisan yang rapi. Oleh karena itu perlu adanya menyatukan pola pikir dasar ideologi yang kristiani dan langkah pergerakan kristen sesuai dengan ajaran dan perjuangan kristus sang juru selamat untuk menyelamatkan umat manusia. Gerakan Pemuda Gereja Institut TIDAK mengontroversial atau untuk menyatuhkan kepercayaan ataupun memusuhi gerakan yang menyatuhkan gerakan kekristenan namun GPGI berfokus pada "Bagaimana Menyatuhkan Pola Fikir Sesuai Iman Kekristenan Guna Membangunan Manusia Yang Memiliki Kehidupan Visioner" Salam, Shareng ttd

Terjual Ke-Lima Hal Ini, Oap Akan Jual Diri Jika Anda Dan Saya


 

    “State Of University Sumber: http://www.dihaimoma.com Ketika mendengar kata jual dan beli kadang saya merasa seperti dihantam popor senjata.Jujur saya kadang sakit hati untuk menyimak ataupun memaknai kedua kata ini dari sudut pandang Orang Papua saat ini.Satu dari sekian banyak hal yang tidak kita sadari sebagai orang Asli Papua (OAP)adalah siapa kita.Kita lupa jati diri kita, bahkan bangga dengan modernisasi tetapi terkadang tidak memahami makna sesungguhnya dari modernisasi dan globalisasi.Kita menjual semuanya. Lalu, kita membenci orang lain. SEBENARNYA, KITA INI MAUNYA APA? Persoalan yang kami maksud di sini adalah bukan berarti anda dan saya sadar dan harus berteriak Papua Merdeka atau anda dan saya harus bergabung dalam Organisasi Perjuangan Kemerdekaan Papua.Soal kedua hal ini, banyak abang-abang, kakanda, senior-senior kita yang sedang memperjuangkan itu.INGAT…, bukan berati anda dan saya tidak boleh bergabung dalam perjuangan FWP (Free West Papua) tetapi lebih pada mengambil peran yang secara tidak langsung turut berdampak positif pada perjuangan itu sendiri.Kawan-kawan, hari ini masih banyak celah yang digunakan colonial (penjajah) untuk menumbangkan kita secara langsung dan tidak langsung dan hal-hal semacam ini harus kita tutupi bersama dengan se-pemahaman/solidaritas intelektual. Kita harus mengakui bahwa selama ini kita hanya melihat banyak hal dari sudut pandang orang Papua sebagai subjek dan menjadikan Indonesia objek.Kita lupa dan bahkan waktu untuk melihat diri kita sendiri sebagai objek terkadang terkubur oleh kebencian, kemarahan, permusuhan yang terus menyakiti kita.Satu pernyataan sederhana adalah kita Orang Asli Papua itu sangar diluar tetapi sebenarnya sangat lemah dalam meletakkan dasar yang kokoh dan mempererat hubungan sesame manusia papua.BENAR ATAU TIDAK KAWAN? Semua sudah terjual.Percayalah, di Papua semuanya sudah terjual.Siapa yang menjual, dalam hal ini anda dan saya tidak bisa menyalahkan pembeli.Kita sendiri yang terkadang melakukan itu.Satu hal yang membuat Papua lama dalam mencapai cita-cita atau harapan OAP itu adalah KITA SENDIRI. Terlebih, karena budaya dan tradisi kita mudah sekali dipengaruhi oleh budaya lain itu realita terjadi. Dari hal semacam ini, Dinilaiakan berbagi 5 Alasan Mengapa Kata Jual Dan Beli Itu Turut Membunuh Orang Papua dan akan hilang. 1. PERTAMA Tanah, Hutan, Batu, Dan Kekayaan Alam Lainnya terjual habis dengan harga yang relatif murah dan mudah.Padahal orang yang berpikir global, sudah panik dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan penyediaan pangan serta lahan bagi miliaran penduduk bumi. Orang Asli Papua hari ini sangat tidak menyadari betapa berharganya tanah yang jual hanya dengan ratusan bahkan puluhan juta perhektare. Bukan hanya kalimat/ungkapan tapi realita terjadi dibeberapa daerah seperti: Kabupaten Dogiyai masyarakat menjual tanah ratusan meter hanya menukar dengar motor. Sederhana, tanah dengan luas ratusan meter itu seharga motor Yamaha Viksen di Dogiyai “logis tidak?” (Oleh: Dihai Moma). Dan Kabupaten Puncak Jaya terutama di ibu kota kabupaten (kota mulia) hamper 80% tanah terjual habis, oleh pemerintah, elemen, para pengusaha/pedangan perekonomian. Dan kabupaten puncak jaya juga di distrik ilu dan distrik jigonikme, masyarakat memberikan/menyerahkan tanah kepada pemerintah tanpa pemberikan apapun kepada masyarakat namun yang diminta masyarakat adalah pembangunan (yang dimaksud pembangunan disini bukan pembangunan untuk rakyat namun siapa saja, pedangan/pengusaha dan elemen bebas bangun untuk memperluas kepengusahaannya/perekonmiannya) (Oleh: Jhon Lhau’rens Tabuni) Bukan hanya tanah, hutan dibabat habis dengan perusahaan-perusahaan mini. Apalagi ditambah dengan perushaan-perusahaan mini dari China dan Korea, pilipina, singapura, malaisyadan terutama kepada Negara adi kuasa yaitu Amerika yang terus menguras emas dan kekayaan di tanah Papua. PERTANYAANYA, Siapa Yang Memasukan Itu Semua? Kalau didalamnya tidak ada campur tangan dari Orang Papua sendiri. Kasus penjualan tanah oleh masyarakat dan memasukan perusahaan-perusahan kayu dan tambang untuk mengambil hasil alam semakin tidak terkontrol di Papua. Sementara kita terus bangga menikmati hasilnya. Anda coba bayangkan pada abad ke-19 penduduk bumi hanya 1 miliar. Butuh 130 tahun untuk mencapai 2 miliar penduduk bumi. Pada tahun 1959 populasi manusia mencapai 4 miliar. Lalu pada tahun 2011 populasi itu telah berkembang mencapai 7 miliar. Pada tahun 2014 Profesor Shashi Sharma dari Universitas Murdoch pakar ketahanan pangan mengatakan, memberi makan pada belasan miliar jiwa akan sangat sulit. “Saat ini kita punya 7 miliar dan kita hanya mampu menyediakan pangan bagi 5 miliar di antaranya. 2 miliar orang menderita kelaparan atau malnutrisi (penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi). Sedangkan mengacu pada pada laporan PBB yang berjudul World Population Prospects: The 2015 Revision, pada tahun 2015 lalu memprediksi setelah 14 tahun populasi dunia akan menyentuh 8,5 miliar jiwa. Lalu pada 2050 akan menembus sekitar 9,7 miliar, dan genap memasuki akhir abad ke-21 manusia ditaksir akan berjumlah 11,2 miliar orang. Ini perkembangan yang sangat konyol dan begitu cepat. Artinya, untuk memberi makan 10 miliar manusia saja, peneliti dari PBB menjelaskan bahwa diperlukan minimal hewan ternak yang bila dikumpulkan menutupi area seluas 3,5 miliar hektare. Area itu lebih luas dari benua Afrika yang luasnya 'hanya' 3 miliar hektare. Selain itu, manusia juga membutuhkan tanaman pangan yang bila dikumpulkan seluas Amerika Selatan, atau sekitar 1,8 miliar hektar.Ketika kita melihat dikekinian sangat sulit mendapatkan lahan tempat tinggal yang layak. Apalagi harus melonggarkan lahan seluas dua benua untuk makanan. Pada tahun 2015 PBB memprediksi jumlah penduduk Indonesia akan melebihi 300 Juta Jiwa pada tahun 2050. Ini artinya, Papua bagi Indonesia bukan hanya sebuah tempat yang penuh dengan susu dan madu tetapi juga tempat berkembang yang nyaman bagi anak cucunya. Apa lagi saat ini kota Jakarta sudah di sebut dengan megapolitian. Kota metropolitan sudah mulai bergeser ke kota Bandung, surabaya dan lain-lain. Hal seperti ini menjadi indikasi bahwa perkembangan dan kepadatan itu nyata dan sedang terjadi di Indonesia. LALU APA HUBUNGANNYA DENGAN PAPUA?SAAT INI SAJA, KITA TELAH MENGETAHUI BAHWA JUMLAH ORANG PAPUA MENJADI MINORITAS DI ATAS TANAH SENDIRI. APAGI JIKA TAHUN 2050 MENDATANG KALAU PULAU JAWA SUDAH PADAT DENGAN PENDUDUK. PAPUA AKAN MENJADI TEMPAT BERISTIRAHAT DAN BERANAK CUCU YANG DIIDOLAKAN. Dalam pembahasan ini jika kita rajin jual tanah, hutan dan membuka lahan besar-besaran di Papua, maka kemungkinan besar ada dua poin yang akan terjadi. Pertama pada tahun 2050 di Papua, kita ketemu orang Papua itu akan sama halnya dengan kita bertemu orang Papua di Jakarta. Kedua jika kita mengacu pada kekinian, orang Papua mulai tergeser kepinggiran kota. Hal itu, nyata kawan-kawan ! Pada tahun 2013 ketika Kabupaten Deiyai, Nabire dan Puncak Jaya. melihat tanah-tanah kelas A yang strategis untuk dijadikan proses perputaran ekonomi/pembangunan dan kemudahan akses dikuasai oleh non Papua hamper 99%. Orang Papua mulai tergeser ke sudut dan pinggiran kota. Kalau tidak percaya, silahkan ke Nabire dan ke Puncak Jaya dan saksikan sendiri. Jadi sekarang, bagaimana dengan kota anda? Coba anda jalan pantau di kota anda, apakah sama dengan Nabire dan Puncak Jaya. “Semoga Saja Tidak Begitu”! Anehnya, orang Papua rajin jual tanah dan bangga menyapuh hutan dan lahan kayu demi menikmati hasilnya hari ini. MUNGKIN KAMI TERLALU KELEBIHAN BAIK ATAU KARENA KAMI TIDAK PAHAM?. Entalah. Terlepas dari itu, mari kita mulailah sampaikan ke orang papua (orang tua) jangan jual tanah dan hutan. Jika tidak sangat disayangkan, generasi tahun 2100 akan berkata "Betapa Rakusnya Moyangku Waktu Itu, Sehingga Meninggalkan Beban Buatku Hari Ini”. 2. KE-DUA Dari hasil penjualan tanah dan hutan, kita orang Papua membeli berbagai barang mewah yang terkadang kita sendiri juga tidak terlalu paham apa fungsi dan manfaatnya sehingga barang itu hanya berumur jagung. Lebih jau lagi, tidak maksimal dalam manfaatkan barang-barang yang kita beli. Bisa jadi kita ingin bertingkah modern dan global tapi terjebak dalam gaya hidup westernisasi. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut terdapat 11 provinsi di Indonesia dengan nilai belanja non makanan lebih besar dibanding provinsi lain. Papua berada diperingkat teratas (1) dengan alokasi belanja mencapai 62,89 persen (Katadata.co.id). Sampai di sini, jelas bahwa kita belanja barang-barang begitu banyak tetapi dalam penerapannya terkadang tidak memberi hasil yang maksimal. Anehnya, terkadang untuk mengoperasikan barang-barang itu kita harus cari orang luar Papua. Kasus semacam ini banyak yang terjadi di Papua. Setelah cari orang luar, akhirnya orang Papua (kami) ditipu demi keuntungan mereka. Kasus semacam ini, kadang juga kita ditipu oleh para distributor dan penyedia jasa. TIDAK PERCAYA? Kalau orang Papua yang beli barang, harga akan melambung tinggi. ANGGAPAN MEREKA ORANG PAPUA ITU KAYA DAN BANYAK UANG. Heee… tenang saja, saat ini tanah serta hutan Papua masih luas. Mungkin sampai nanti pohon terakhir ditebang untuk dijual. Tanah sisa diduduki pendatang. Emas terakhir didollarkan, minyak terakhir dijual dan barang terakhir kita beli baru kita akan sadar uang dan barang tidak dapat kita makan. 3. KE-TIGA Orang Papua suka menjual tanah dan hutan untuk membeli barang itu biasa tetapi anehnya lagi, akhir-akhir ini orang Papua jual orang Papua juga mulai nampak. Poin ini kembali pada pembahasan kedua (2) bahwa generasi kita saat ini menaruh perhatian lebih pada gaya hidup Westernisasi. Kita belum mampu menghadapi dua arus besar yang biasa mereka sebut dengan modernisasi dan globalisasi. Persoalannya, adalah nilai-nilai leluhur dan kebudayaan kita tenggelam bersama kedua arus ini. Kita lebih bangga dengan kebarat-baratan atau westernisasi. Hal itu mungkin ada baiknya tetapi satu hal yang menjadi penanda adalah ketika kita bangga dengan gaya hidup westernisasi. Kita lemah dalam mempertahankan apa yang kita miliki. Sederhananya, alih-alih berlaku modern dan global. Kita terjebak dalam gaya hidup kebarat-baratan yang semakin membentuk kita menjadi manusia invidualistik dan materialistik yang terus memupuk beni kriminalitas dan kesenjangan. Kondisi semacam ini kita bisa tahu ketika kita lebih bangga dengan kebarat-baratan dari pada apa yang kita punya. Padahal kita bisa bertingkah seperti itu dengan tetap mempertahankan apa yang kita punya.Hal itu dapat di lakukan, kita bisa belajar dari orang Jawa yang kental dengan kebudayaannya sehingga kedua arus ini tidak mampu menggoyang. Dari orang china yang ketat dengan kebudayaannya. Jika kita melihat orang jawa di SURINAME dan MAKASSAR, kita akan tahu dari bahasa saja sampai dengan kebiasaannya masih kental dengan kebudayaannya, padahal sudah puluhan tahun mereka berbaur dengan berbagai kelompok. Orang Jawa di KALEDONIA Baru tetap menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari dan kental dengan tradisi kebudayaannya. Tentunya, orang jawa di Papua. Meskipun mereka dihantam kedua arus ini, mereka menyesuaikan diri tanpa mengorbankan tradisi dan kebudayaan mereka. Satu hal yang pasti, jika orang baru atau kebudayaan baru yang masuk di wilayah mereka sudah pasti bukan mereka yang akan terpengaruh tetapi orang tersebut yang akan dipengaruhi oleh kebudayaan mereka. Yah.. karena mereka memiliki dasar yang kuat. Sama halnya dengan tadi gaya hidup Westernisasi yang memiliki pengaruh besar dikalangan anak-anak muda Papua, juga dunia. Konteks Papua, serbah salah. Ko pegang kebudayaan mereka akan bilang ko kampungan dan bahkan ada yang malu dengan kebudayaan dan tradisinya sendiri.Gaya hidup kebarat-baratan (weternisasi) disebut modern. Lalu apakah benar kita siap dengan arus globalisasi dan modernisasi. Heee… semoga kita bisa lebih paham dengan kedua arus besar ini, biar kita tidak samakan Westernisasi dengan kedua arus ini? Jika tidak kita sedang saling menjual. Sederhananya tradisi dan kebudayaan yang kita punya saja kita jual sendiri dan memilih kebudayaan baru yang notabenenya dapat buat kita lupa darimana kita berasal. Persoalan ini hanya mengacu pada tradisi dan kebudayaan orang Papua. Belum lagi dari segi politik dll. Kita tahu di Papua selama ini ada dua kubu yang saling kontra. Orang Papua Barisan Merah Putih dan Barisan yang pro Merdeka. Pertanyaannya, mengapa dengan mudah orang Papua dapat dipengaruhi untuk masuk dalam barisan merah Putih? Kembali kepenjelasan di atas," KARENA LUPA DARI MANA IA BERASAL dan DARIMANA IA DATANG" dan masih banyak lagi persoalan seperti ini terjadi di Papua. 4. KE-EMPAT Hasil jual dan beli di atas, akan menciptakan generasi pengemis diesok hari. Itu adalah persoalan terbesar yang akan kita tinggalkan untuk generasi berikutnya dari tingkah kita hari ini. Mereka bukan saja akan bingung mencari asal-usul mereka atau tanah untuk mereka membangun rumah tetapi nama-nama pohon seperti Matoa, kayu besi, pohon sagu, dan lain-lain akan mereka ketahui bentuknya di internet melalui foto dan video. Kita kaya hari ini bergaya dengan sekian rupiah dari hasil hutan dan alam Papua. Kita bangga dengan emas dan tembaga. Kita berteriak dan sombong karena tanah yang luas.Sayang, fakta hari ini membuktikan bahwa kita gagal membangun Papua. Pemerintah sibuk berpolitik dan membangun pembangunan fisik. Masyarakat terabaikan dan terus dipermainkan. Masyarakat tidak diperhatikan, jadi terus meminta perusahaan.Selain itu, tanah yang diwariskan dan pohon yang membutuhkan ratusan tahun untuk tumbuh ditebang dalam sehari untuk dijual demi sebuah kesenangan sesaat. BUKANKAH BEGITU KONDISI KITA DI PAPUA SAAT INI KAWAN-KAWAN? Di Papua hari ini mungkin anda jarang melihat anak-anak kecil kumpul botol dan rongsokan ditumpukan sampah. Pengemis ditrotoar dan angkutan umum, tetapi besok itu akan menjadi tontonan yang elok untuk diperbincangkan. Kita hari ini bangga dengan Fortuner dari hasil alam tetapi sayang kerakusan kita akan meninggalkan masalah yang cukup serius bagi generasi mendatang. Ketika hutan Papua gundul, ketika laut dan sungai di Papua tercemar, ketika stok minyak bumi habis, ketika emas dan tembaga habis yang ada hanya krisis global menyapu Papua. Satu catatan menyedihkan yang akan mereka katakan oleh generasi Papua esok hari untuk kita adalah "BETAPA RAKUSNYA MOYANG KITA SEHINGGA MEREKA HANYA MENYISAKAN EFEK NEGATIF DARI HASIL YANG MEREKA NIKMATI" 5. KE-LIMA Besok ketika tidak ada lagi yang hendak di jual, orang Papua akan jual diri. Kalau KEEMPAT proses di atas sudah terjadi di Papua, tidak ada hal yang tersisa untuk dijual maka muncullah perdagangan manusia, hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika kita berkaca dikenian dan menatap dengan saksama di negara-negara seperti Amerika, Jepang, China dan lain. Kita akan melihat pengaruh dari arus globalisasi dan modernsasi itu begitu nampak.Segala cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini bukan hanya soal makan minum dan tempat tinggal tetapi masalah kebutuhan akan uang. Perdagangan manusia, penyedia jasa pacar, penyedia jasa ibu bagi orang-orang yang jam terbangnya tinggi, jasa pekerja telanjang bagi penganut natularis di eropa, Bank sperma bagi ibu yang ingin punya anak tanpa proses kawin, sampai dengan penyalahgunaan obat-obat terlarang yang terus menghantui (kriminalitas) negara-negara itu. Semua ini terjadi karena tidak ada lagi hal-hal yang dapat dijual dan dimanfaatkan untuk mendatangkan uang. Selain contoh di atas, di Jawa seperti Bogor misalnya. Ketika hujan bagi mereka hal itu merupakan sumber uang dengan menyediakan jasa payung. Ketika di posisi serbah mentok inilah, akan ada generasi dimana orang Papua jual diri. Pertanyaan terbesar dari kasus semacam ini. Papua yang kaya hanya akan tersurat dalam sejarah untuk diperbincangkan. Intinya, kita sadar bahwa banyak keserakahan dan pencurian di Papua tetapi terkadang kita ditertawakan sama pencuri karena teriakan kita sama halnya dengan pencuri teriak pencuri.Perbedaan terbesarnya. Jika hari ini, orang Papua mencuri kekayaan alam yang seharusnya dapat disisakan bagi generasi selanjutnya. Indonesia mencuri kekayaan alam orang Papua dari kita saat ini dan juga dari generasi mendatang untuk keperluan dan kenyamanan generasi mudanya ratusan ribu tahun mendatang. PENUTUP Demikian itu kutipan untuk berfikir harus sehat yang bersumber dari : http://www.dihaimoma.com semoga seluruh manusia asli papua yang hidup di tanah papua jikalau peduli dengan akan masa depan Anak, Cucu, Budaya dll, maka perlu berfikir 2 kali dan bertindak sesuai pencintaan kehidupan kita yang turun temurun atau dari generasi ke generasi di tanah papua. Jika menurut anda keliru/dianggap tidak sesuai, mohon masukan dan saran atas kutipan tersebut untuk perbaikan yang lebh baik kedepan. Salam Sorong-Merauke Artikel ini diadaptasi dari berbagai sumber yaitu: 1) National Geographic online edisi 2014. Ini Perkiraan Populasi Bumi pada 2050. Diakases 217/3 2017. 2) Tirti.Id online edis 06 /12/2016. Horor Ledakan Populasi Umat Manusia. Diakases 217/3 2017. 3) Kompas online edisi Juli 2015.PBB: Pada 2050, Jumlah Penduduk Indonesia Melebihi 300 Juta Jiwa. 217/3 2017. Salam Shareng; Kelber “Gerakan Pemuda Kristen (GPK)”

Featured Post